Quacquarelli Symonds (QS) Intelligence Unit Seminar

Salah satu yang menjadi perhatian dari Rektor Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani A.R., M.S., adalah peringkat UB sebagai salah satu PTN yang memegang amanah Kemenristekdikti untuk menjadi World Class University. Tahun 2018 ini adalah awal yang cukup berat bagi UB untuk mengawal amanah tersebut mengingat peringkat UB yang relatif turun. Bila diambil dua data pemeringkatan yang menjadi fokus Rektor UB yaitu QS (untuk tingkat Asia /Dunia) dan Pemeringkatan oleh Kemenristekdikti (Nasional), maka di keduanya UB turun. QS WUR (QS World University Rangking) menunjukkan data pada tahun 2012 – 2013 UB berada pada peringkat #601+, kemudian pada kurun tahun 2014-2017 turun ke peringkat #701+, dan pada 2018-2019 ini turun lagi menjadi #801-1000. Untuk level Asia (QS Asia) UB pada 2017 ini sedikit naik dari tahun 2016 yaitu menjadi #291-300 dari sebelumnya pada peringkat #301-350, namun peringkat ini masih di bawah peringkat pada tahun sebelumnya yaitu sempat bertengger di peringkat #251-300 pada tahun 2015 dan peringkat #201-250 pada tahun 2013 (lihat grafik di bawah). Untuk pemeringkatan dari Kemenristekdikti UB naik dari peringkat 6 pada tahun 2015 menjadi peringkat 5 pada tahun 2016 namun kembali turun menjadi peringkat 8 pada tahun 2017…(semoga akhir tahun 2018 ini data di Kemenristekdikti menjunjukkan peningkatan.

Belajar dari data tersebut, kinerja UB pada tahun 2018 ini menunjukkan tren kembali merangkak naik untuk level Asia, namun untuk level dunia tren tetap menunjukkan penurunan. Hal ini memberikan indikasi bahwa Perguruan Tinggi di luar Asia bila diambil rata-rata memiliki percepatan lebih tinggi dari UB. Untuk pemeringkatan yang dilakukan oleh Kemenristekdikti, UB juga relatif turun bila dibandingkan peringkat pada tahun 2015. Kondisi ini menuntut strategi yang tepat untuk bisa bersaing dengan Perguruan Tinggi ternama lainnya. Untuk itu strategi dan sasaran jangka pendek UB setidaknya adalah mengembalikan posisi peringkat UB seperti pada tahun 2013 yaitu peringkat #201-250 untuk level Asia dan peringkat #601+ untuk level dunia. Sedangkan untuk jangka panjangnya adalah mencapai peringkat #500+ dunia. Kapan bisa tercapai? Sinergi semua pemangku kepentingan menjadi kunci.

Seminar QS yang dilaksanakan pada tanggal 6 Agustus 2018, (hosted by QS and co-hosted by QS Intelligence Unit (QS IU) dan Universitas Indonesia) di Margo Hotel -Depok, dengan narasumber oleh Ben Sowter (Head of QS Intelligence Unit), E Way (Regional Manager- South East Asia), dan Dr. Shadi Hijazi (QS IU Consultant) memberikan beberapa tambahan wawasan tentang pemeringkatan yang dilakukan oleh QS. Untuk seminar QS ini UB menugaskan dosen dari FT, Dr. Ir. Surjono, MTP (sekretaris Pusat Pemeringkatan – LP3M), dosen F MIPA Prof. Dr. Marjono, M.Phil (sekretaris Pusat Urusan Internasional – LP3M) dan dosen FIA Andriani Kusumawati, S.Sos., MSi, DBA (kabid internasional reputasi – Pusat Pemeringkatan LP3M) (lihat gambar di bawah). Beberapa hal penting yang bisa saya catat dalam forum tersebut antara lain: QS menggunakan metodologi pengukuran yang 50% bersifat ‘lebih subyektif’ yaitu parameter academic reputation (bobot 40%) dan employer reputation (bobot 10%). Dua parameter tersebut diperoleh dari academic survey dan employer survey. Setengah dari penilaian lainnya berupa data obyektif yang terdiri dari empat parameter, yaitu pemeringkatan yang terdiri dari  faculty/student ratio (20%), citation per faculty (20%), international faculty ratio (5%), dan international student ratio (5%). Bobot penilaian ‘subyektif’ yang meliputi bobot 50% ini menuntut pencitraan (branding) yang cukup agresif yang diharapkan memiliki dampak berupa meningkatnya kerjasama, hubungan emosional/personal yang lebih baik, dan itu semua akan memperkuat citra UB menurut kolega Perguruan Tinggi Luar Negeri. Sehingga saat menerima academic survey yang dilakukan oleh QS, maka mereka akan menominasikan UB. Dalam academic survey ini nominasi dari kolega yang ada di PT Luar Negeri lebih diperhitungkan oleh QS. Untuk kampus-kampus di Indonesia, termasuk UB, nominasi sebagian besar diberikan oleh responden dari, urut dari yang paling besar, Malaysia, Jepang, dan Australia.

Untuk pemeringkatan pada level Indonesia, agar bisa lebih meningkat, UB harus memperbaiki kriteria yang kinerjanya belum maksimal berdasarkan kriteria Kemenristekdikti, yaitu berturut turut dari yang paling lemah adalah: SDM, Kelembagaan, dan Penelitian + Publikasi. Untuk memperbaiki peringkat di Kemenristekdikti antara lain jangka pendeknya adalah updating data PDPT, percepatan guru besar dan doktor, rasio dosen/mahasiswa, rasio prodi dengan akreditasi A dan publikasi. Semoga dengan kerja bersama semua komponen universitas, UB bisa meningkatkan mutu dan menjadi salah satu World Class University yang disegani di Asia dan dunia. (SUR)


Export date: Sun Dec 16 19:14:26 2018 / +0000 GMT
Exported from [  ]